Sering orang keliru menggunakan istilah merajut untuk kegiatan merenda. Perbedaannya memang tidak begitu mencolok. Sama-sama menggunakan benang yang menggulung berwarna-warni, dan alat seperti stik panjang yang bisa terbuat dari plastik, stainless, atau kayu. Sekilas memang seperti itu, namun ternyata kedua aktivitas tersebut menggunakan teknik dan alat yang berbeda sehingga menghasilkan hasil akhir yang berbeda pula.
Diantara perbedaan antara merajut (knitting) dan merenda (crochet) adalah alat yang diatas saya sebut dengan istilah stik itu. Merenda menggunakan satu batang jarum renda dengan kait atau hook. Sedangkan merajut membutuhkan dua batang jarum rajut tanpa kait, bisa jarum rajut betulan, bisa juga menggunakan sumpit atau bahkan lidi asalkan berbentuk batang tipis dengan panjang minimal 20 cm.
Ada filosofi yang saya kagumi dari merajut. Merajut, seperti nampak pada gambar di atas, membutuhkan dua buah alat yang secara sinergis memerankan perannya masing-masing untuk membuat hasil karya rajutan yang indah. Jalinan benang yang awalnya terurai atau menggulung, tersusun sesuai pola yang diinginkan menjadi hasil karya yang indah dan bernilai guna. Banyak pola rajut yang dapat dikombinasikan dalam sebuah hasil rajutan, dari simpul awal, tusukan dasar untuk dasar rajutan yang kokoh, sampai beragam kombinasi jenis tusukan yang menghiasi hasil rajutan hingga akhirnya diakhiri simpul akhir. Konsistensi dalam proses merajut jelas dibutuhkan dan menjadi asas berhasilnya rajutan dibuat. Tanpa konsistensi dan ketekunan dalam merajut, hasil rajutan tidak akan pernah selesai karena perlu waktu yang tidak sebentar untuk membuat hasil rajutan bahkan untuk rajutan yang sangat sederhana sekalipun. Dalam merajut perlu proses dan tahapan-tahapan yang dilalui, perlu latihan dan perjuangan agar menguasainya. Begitupula dengan ukhuwah yang dibina diantara ummat Rasulullah. Ukhuwah Islamiyah, yang menurut Imam Hasan Al-Banna bermakna “keterikatan hati dan jiwa dengan ikatan aqidah”, seperti halnya merajut, memerlukan proses, tahapan, dan keistiqomahan dalam membinanya. Setiap komponen penegak tali ukhuwah memiliki peranan yang harus dijalankan bersama, resiprok, berseni, dan harmonis.
Tahapan saling mengenal atau ta’aruf. Dalam tahapan ini, seorang muslim mengenal saudaranya. Mencoba mengenali beragam karakteristiknya, baik itu penampilan, sifat, maupun pola pikir. Saling mengenal sesama muslim merupakan wujud nyata ketaatan terhadap perintah Allah SWT.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Tahapan saling memahami atau tafahum mencakup berbagai proses penyatuan dari berbagai ruang lingkup dalam tahapan ta’aruf dengan intensitas yang lebih tinggi. Pemahaman meliputi kebiasaan, kesukaan, karakter, ciri khas individu, serta cara berfikir saudaranya. Dalam tahapan kedua ini, terdapat tiga buah proses perpaduan yang meliputi perpaduan hati (ta’liful qulb), perpaduan pemikiran (ta’liful afkar), dan perpaduan kerja (ta’liful amal).
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)
Tahapan saling menolong atau ta’awwun adalah saling membantu dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Adanya tolong-menolong merupakan kelanjutan dari tahapan saling memahami dengan kerja yang sudah padu. Ada keikhlasan dalam upaya saling mengisi kekurangan dan saling membantu mengembangkan kelebihan-kelebihan yang terdapat dalam individu. “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim) Munculnya perasaan senasib dan sepenanggungan atau takaful merupakan tahapan dimana muara proses ukhuwah islamiyah terletak, meliputi rasa suka dan duka, susah dan senang yang dirasakan bersama. Bila fase takaful ini terwujud, maka ikatan ukhuwah islamiyah pun terbentuk dengan utuh.
Ketika setiap tahapan tersebut berhasil dilalui dan dicapai bersama, maka rajutan tali ukhuwah yang cantik dan kokoh dapat dihasilkan dan dapat berwujud menjadi kerja-kerja nyata dalam upaya menyebarkan syiar-syiar islam, menjadi corong cahaya sinar islam yang mencerminkan kekuatan dan kesempurnaan islam. Wallaahu a’lam.
Bandung, 27 April 2010
04.08 WIB
Referensi:
http://peradabanalternatif.multiply.com/journal/item/14/TAHAPAN_PROSES_UKHUWAH_ISLAMIYAH http://harokah.blogspot.com/2005/12/ukhuwah-islamiyah.html http://ziggy1st.wordpress.com/2008/05/07/mari-mulai-merajut/ http://kumpulan.info/hobby/kegiatan/58-kegiatan/121-merajut-dan-merenda.html



