I saw him standing still. Separated from the others. Sometimes he looked around, seems not concentrated enough to pray.
Kakakku berkata, meskipun ia tidak tegak berdiri, tampak lunglai, juga sarung yang dipakainya seringkali melorot dan nampak tidak rapih, dia konsisten untuk terus mengikuti berjamaah shalat tarawih.
Diantara salam, terkadang kuperhatikan ia. Kini ia bersama seseorang yang seumuran dengannya, wajahnya mirip, tapi tidak identik. Oh, aku pikir mungkin dia kakaknya, atau kakak sepupunya, karena ia tampak sedikit lebih pendek dari anak disampingnya itu. Anak di sampingnya itu tampak cukup aktif bergerak, berjalan kesana-kemari, untuk itulah si anak tadi tampak lebih sering sendirian.
Si anak tampak begitu ceria, senyum lebar mengembang, namun ia tidak banyak bercanda, atau tertawa-tawa dan berjalan-jalan seperti anak kecil lain di sekelilingnya.
Tarawih pun usai. Ia melepas sarung yang dipakainya, kemudian menuju barisan akhwat tempatku berada. Ternyata ia menuju ibunya. Ia berikan sarungnya, dan ia pakai jaket mungil dari sang ibu.
My heart cry out loud when I saw him walk. He was smiling, looked really happy towards his mother. He spread that honest smile into the entire mosque.
Bukan ia tidak mau berdiri tegak sebagaimana posisi shalat seharusnya. Bukan.
Bukan ia bermaksud menunjukkan rasa malas dan lunglai saat shalat di hadapan ibunya. Bukan.
Bukan ia tidak mau membetulkan posisi sarung nya agar tampak rapih. Bukan.
P. O. L. I. O
Itulah mengapa
Dan kini aku tau, seseorang yang begitu sehat dan aktif di sampingnya tadi adalah saudaranya. Lebih tepatnya, ia adalah saudara kembarnya.
Suddenly, I feel really pain in my heart. It really hurts.

