.Dia yang berdiri disana.

I  saw him standing still. Separated from the others. Sometimes he looked around, seems not concentrated enough to pray.


Kakakku berkata, meskipun ia tidak tegak berdiri, tampak lunglai, juga sarung yang dipakainya seringkali melorot dan nampak tidak rapih, dia konsisten untuk terus mengikuti berjamaah shalat tarawih.

Diantara salam, terkadang kuperhatikan ia. Kini ia bersama seseorang yang seumuran dengannya, wajahnya mirip, tapi tidak identik. Oh, aku pikir mungkin dia kakaknya, atau kakak sepupunya, karena ia tampak sedikit lebih pendek dari anak disampingnya itu. Anak di sampingnya itu tampak cukup aktif bergerak, berjalan kesana-kemari, untuk itulah si anak tadi tampak lebih sering sendirian.

Si anak tampak begitu ceria, senyum lebar mengembang, namun ia tidak banyak bercanda, atau tertawa-tawa dan berjalan-jalan seperti anak kecil lain di sekelilingnya.

Tarawih pun usai. Ia melepas sarung yang dipakainya, kemudian menuju barisan akhwat tempatku berada. Ternyata ia menuju ibunya. Ia berikan sarungnya, dan ia pakai jaket mungil dari sang ibu.

My heart cry out loud when I saw him walk. He was smiling, looked really happy towards his mother. He spread that honest smile into the entire mosque.

Bukan ia tidak mau berdiri tegak sebagaimana posisi shalat seharusnya. Bukan.

Bukan ia bermaksud menunjukkan rasa malas dan lunglai saat shalat di hadapan ibunya. Bukan.

Bukan ia tidak mau membetulkan posisi sarung nya agar tampak rapih. Bukan.

P. O. L. I. O

Itulah mengapa


Dan kini aku tau, seseorang yang begitu sehat dan aktif di sampingnya tadi adalah saudaranya. Lebih tepatnya, ia adalah saudara kembarnya.

Suddenly, I feel really pain in my heart. It really hurts.


“Pegangan tangan, dosanya apa?”

Sy sedikit tertegun membaca sms dari seorang teman pagi ini:

“teh, kalo pegangan tangan dosanya apa?”

Hhmm…,

Sy cuma bisa membalas:

“Andaikan ditusukkan ke kepala salah seorang diantara kalian dengan jarum besi, yang demikian itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak dibolehkan baginya.” (HR.Imam At-Thabrani)

To Deliver Bad News

Hari ini, senin, tanggal 12 juli 2010. Agenda di kampus hari rabu ini adalah Roleplay, kamis review dan diskusi roleplay.  Jum’at dan seterusnya: L.I.B.U.R. Perkuliahan semester baru (baca: semester 7! wow^^) terhitung tanggal 30 agustus nanti. Sedikit terasa aneh karena di semester-semester akhir masa pre-klinik seperti ini kembali merasakan libur akhir semester yang cukup panjang (baca: 1,5 bulan).

1,5 bulan atau kurang lebih 44 hari, bukan masa yang singkat, berbagai rencana harus dirancang untuk mengisinya agar bermakna terasa. Terlebih, setelah sekian lama, Ramadhan kali ini sebagian besar akan kulalui di rumah kembali. Insya allah, jika tidak ada rencana lain untuk menghabiskan Ramadhan di tempat lain nantinya. Tapi, kisah mengenai rencana-rencana itu nanti saja kubagi. Kali ini, yang ingin kubagi adalah mengenai roleplay hari rabu nanti.

Roleplay, secara harfiah jika diterjemahkan ke dalam frasa bahasa indonesia adalah: bermain peran. Secara istilah, roleplay yang sering menjadi salah satu metode belajar sistem Problem Based Learning di kampus kami ini tak ubahnya adalah bermain peran. Bermain peran sesuai skenario mengarahkan dan menginstruksikan kami untuk memerankan apa.

Kali ini, tema roleplay adalah delivering bad news. Phiuh, bukan sesuatu yang mudah menurutku, begitupun menurut sebagian besar teman-teman lainnya. You know, it is hard to receive bad news, but it’s also hard for us to deliver the bad news. But we have to. It’s the patient’s rights to know the fact about their ilnesses.

Semoga dengan roleplay ini, kami akan semakin terlatih to deliver bad news. Bukan karena bad news itu sendiri sesuatu yang tidak akan asing dihadapan pasien-pasien kami nantinya. Tapi lebih kepada kami harap, kami tidak akan menjadi penyampai berita yang buruk. Karena berita buruk, tanpa kami perburuk pun sudah merupakan sesuatu yang berat bagi pasien dan keluarganya, apalagi jika keterampilan kami dalam menyampaikan berita buruk adalah minus. Semoga ya Allah. Izinkan kami untuk terus belajar dan berlatih. Menjadi lebih baik.

Takahashi, 5 Menit Menuju ke Surga

Oleh: Muhammad Yusuf Efendi
dakwatuna.com
Kuringgu… kuringgu …. kuringgu!!! (kring …kring …kring..). Suara telepon rumah Muhammad berbunyi nyaring.

Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)

Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)

Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).

Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)

Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)

Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.

Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi kian akrab dengan keluarga Muhammad. Dia mulai menghindari makanan haram menurut hukum Islam.

Memilih dengan hati-hati dan baik, mana yang boleh di makan dan mana yang tidak boleh dimakan merupakan kelebihannya. Terkadang tidak sedikit, keluarga Muhammad pun mendapatkan informasi makanan-makanan yang halal dan haram dari Takahashi.

“Pizza wo tabenaide kudasai. cheese ni ra-do wo mazeterukara.. (Jangan makan pizza walau pun itu adalah cheese, karena di dalamnya ada lard, lemak babi)”, nasihatnya di suatu hari. Takahashi mengetahui informasi semacam ini karena memang kebiasaan tidak membeli pizza, atau makanan produk warung di Jepang memang sudah terpelihara sebelumnya di keluarga Muhammad.

Toko kecil makanan halal milik keluarga Muhammad, menjadi tumpuan Takahashi dalam mendapatkan daging halal. Suatu ketika Takahashi ingin makan daging ayam kesukaannya, tapi dia ngeri kalau melihat daging ayam bulat (whole) mentah yang ada di plastik, dan tidak berani untuk memotongnya. Dengan senang hati, Muhammad memotong ayam itu untuk Takahashi. Dia potong bagian pahanya, sayapnya, dan badannya menjadi beberapa bagian.

Setiap pekan, Takahashi terkadang memesan sosis halal untuk lauk, bekal makan siang di kantor. Setiap pagi ibunya selalu menyediakan menu khusus (baca: halal) untuk pergi ke kantor tempat dia bekerja. Sebagai ukuran muallaf Jepang yang dibesarkan di negeri Sakura, luar biasa kehati-hatian Takahashi dalam memilih makanan yang halal dan baik. Terkadang Muhammad harus belajar dari Takahashi tentang keimanan yang dia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Pernah dalam suatu percakapan tentang suasana kerja, Takahashi menggambarkan bagaimana terkadang sulitnya menjauhi budaya minuman sake di lingkungan tempat kerjanya. Di Jepang, suasana keakraban hubungan antara atasan dan bawahan atau teman bekerja memang ditunjukkan dengan saling memberikan minuman sake ke gelas masing-masing.

Dalam kondisi hidup ber-Islam yang sulit, Takahashi ternyata terus melakukan dakwah kepada ibunya. Beberapa bulan kemudian akhirnya ibunya pun menjadi muallaf dengan nama Qonita, nama pilihan Takahashi sendiri buat ibu yang dia cintainya. Sampai saat ini, bagaimana dia mendapatkan nama itu, tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Takahashi.

Beberapa bulan berlalu, pertemuan kecil-kecilan berlangsung …terlontar dari mulutnya suatu kalimat.

“Watashi ha kekkon simasu (Saya mau menikah)….”, ujarnya.

Dengan proses yang panjang, akhirnya dia mendapatkan jodohnya, wanita Jepang yang cantik, yang dia Islamkan sebelumnya. Setahun kemudian, suatu hari Takahashi datang ke rumah Muhammad dengan istrinya yang berkerudung, ikut serta juga buah hati mereka yang telah hadir di dunia ini.

Pada suatu hari, iseng-iseng Muhammad bertanya kepada Takahashi, “Apa yang menyebabkan Takahashi lebih tertarik dengan Islam?”

“Sebenarnya saya belajar juga Kristen, Budha dan Todoku (Agama moral) selain Islam,” Takahashi menjelaskan.

“Masih ingat dengan telepon kita dulu? Waktu pertama kali aku telepon ke Muhammad beberapa bulan dulu”, sambungnya.

“Iya ingat sekali”, jawab Muhammad.

“Kita waktu itu membuat perjanjian untuk bertemu di suatu tempat bukan?”, tanya Takahashi.

“Iya benar sekali”, sambung Muhammad lagi sambil mengingat-ingat kejadian saat itu.

“Saya sungguh ingin mantap dengan Islam, karena Muhammad datang 5 menit lebih dulu dari pada waktu yang kita janjikan, dan Muhammad datang terlebih dahulu dari pada aku. Muhammad pun menungguku waktu itu”, jawab Takahashi beruntun.

“Karena itu aku yakin, aku akan bersama dengan orang-orang yang akan memberikan kebaikan”, sambungnya lagi.

Jawaban Takahashi membuat Muhammad tertegun, Astaghfirullah sudah berapa kali menit-menitku terbuang percuma, gumam Muhammad.

Begitu besar makna waktu 5 menit saat itu untuk sebuah hidayah dari Allah SWT. Subhanallah, 5 menit selalu kita lalui dengan hal yang sama, akan tetapi 5 menit waktu itu sungguh sangat berharga sekali bagi Takahashi.

Bagaimana dengan 5 menit yang terlewat barusan, milik Anda???

http://www.dakwatuna.com/2010/takahashi-5-menit-menuju-ke-surga/

(Disalin dari note salah seorang teman di FB)

Merajut Ukhuwah

Sering orang keliru menggunakan istilah merajut untuk kegiatan merenda. Perbedaannya memang tidak begitu mencolok. Sama-sama menggunakan benang yang menggulung berwarna-warni, dan alat seperti stik panjang yang bisa terbuat dari plastik, stainless, atau kayu. Sekilas memang seperti itu, namun ternyata kedua aktivitas tersebut menggunakan teknik dan alat yang berbeda sehingga menghasilkan hasil akhir yang berbeda pula.

Diantara perbedaan antara merajut (knitting) dan merenda (crochet) adalah alat yang diatas saya sebut dengan istilah stik itu. Merenda menggunakan satu batang jarum renda dengan kait atau hook. Sedangkan merajut membutuhkan dua batang jarum rajut tanpa kait, bisa jarum rajut betulan, bisa juga menggunakan sumpit atau bahkan lidi asalkan berbentuk batang tipis dengan panjang minimal 20 cm.

Ada filosofi yang saya kagumi dari merajut. Merajut, seperti nampak pada gambar di atas, membutuhkan dua buah alat yang secara sinergis memerankan perannya masing-masing untuk membuat hasil karya rajutan yang indah. Jalinan benang yang awalnya terurai atau menggulung, tersusun sesuai pola yang diinginkan menjadi hasil karya yang indah dan bernilai guna. Banyak pola rajut yang dapat dikombinasikan dalam sebuah hasil rajutan, dari simpul awal, tusukan dasar untuk dasar rajutan yang kokoh, sampai beragam kombinasi jenis tusukan yang menghiasi hasil rajutan hingga akhirnya diakhiri simpul akhir. Konsistensi dalam proses merajut jelas dibutuhkan dan menjadi asas berhasilnya rajutan dibuat. Tanpa konsistensi dan ketekunan dalam merajut, hasil rajutan tidak akan pernah selesai karena perlu waktu yang tidak sebentar untuk membuat hasil rajutan bahkan untuk rajutan yang sangat sederhana sekalipun. Dalam merajut perlu proses dan tahapan-tahapan yang dilalui, perlu latihan dan perjuangan agar menguasainya. Begitupula dengan ukhuwah yang dibina diantara ummat Rasulullah. Ukhuwah Islamiyah, yang menurut Imam Hasan Al-Banna bermakna “keterikatan hati dan jiwa dengan ikatan aqidah”, seperti halnya merajut, memerlukan proses, tahapan, dan keistiqomahan dalam membinanya. Setiap komponen penegak tali ukhuwah memiliki peranan yang harus dijalankan bersama, resiprok, berseni, dan harmonis.

Tahapan saling mengenal atau ta’aruf. Dalam tahapan ini, seorang muslim mengenal saudaranya. Mencoba mengenali beragam karakteristiknya, baik itu penampilan, sifat, maupun pola pikir. Saling mengenal sesama muslim merupakan wujud nyata ketaatan terhadap perintah Allah SWT.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Tahapan saling memahami atau tafahum mencakup berbagai proses penyatuan dari berbagai ruang lingkup dalam tahapan ta’aruf dengan intensitas yang lebih tinggi. Pemahaman meliputi kebiasaan, kesukaan, karakter, ciri khas individu, serta cara berfikir saudaranya. Dalam tahapan kedua ini, terdapat tiga buah proses perpaduan yang meliputi perpaduan hati (ta’liful qulb), perpaduan pemikiran (ta’liful afkar), dan perpaduan kerja (ta’liful amal).

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Tahapan saling menolong atau ta’awwun adalah saling membantu dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Adanya tolong-menolong merupakan kelanjutan dari tahapan saling memahami dengan kerja yang sudah padu. Ada keikhlasan dalam upaya saling mengisi kekurangan dan saling membantu mengembangkan kelebihan-kelebihan yang terdapat dalam individu. “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim) Munculnya perasaan senasib dan sepenanggungan atau takaful merupakan tahapan dimana muara proses ukhuwah islamiyah terletak, meliputi rasa suka dan duka, susah dan senang yang dirasakan bersama. Bila fase takaful ini terwujud, maka ikatan ukhuwah islamiyah pun terbentuk dengan utuh.

Ketika setiap tahapan tersebut berhasil dilalui dan dicapai bersama, maka rajutan tali ukhuwah yang cantik dan kokoh dapat dihasilkan dan dapat berwujud menjadi kerja-kerja nyata dalam upaya menyebarkan syiar-syiar islam, menjadi corong cahaya sinar islam yang mencerminkan kekuatan dan kesempurnaan islam. Wallaahu a’lam.

Bandung, 27 April 2010

04.08 WIB

Referensi:

http://peradabanalternatif.multiply.com/journal/item/14/TAHAPAN_PROSES_UKHUWAH_ISLAMIYAH http://harokah.blogspot.com/2005/12/ukhuwah-islamiyah.html http://ziggy1st.wordpress.com/2008/05/07/mari-mulai-merajut/ http://kumpulan.info/hobby/kegiatan/58-kegiatan/121-merajut-dan-merenda.html

Lagi, capung itu masuk ke dalam kamar untuk yang kedua kalinya… !!

3 hari yang lalu dia masuk dan mulai ‘berisik’ di dekat jendela,, seperti ingin melarikan diri tapi tak tau arah. Meskipun mata capung disebut-sebut sebagai bagian yang paling menonjol dalam tubuhnya, hampir dapat dipastikan dia tidak menggunakan matanya untuk melihat jalan keluar tepat di atas jendela. Hanya berputar-putar di sekitar jendela, computer, dan menubruk-nubruk dinding kamar.

“kawas monyet ngagugulung kalapa”, mungkin itu komentar orang sunda.

Bentuk kedua matanya nyaris bulat dan hampir menutupi setengah bagian kepala. Capung memiliki sepasang mata yang masing-masing terdiri dari 30.000 lensa berbeda. Bentuk kedua matanya nyaris bulat dan hampir menutupi setengah bagian kepala. Jadi serangga ini memiliki wilayah pandang yang sangat luas. Bahkan ia bisa mengetahui keadaan yang ada di belakangnya. Sebuah bekal yang luar biasa yang dititipkan oleh-Nya.

http://astrihapsari.blogspot.com/2009/02/capung.html

Bekerja di depan layar dengan gemerisik kepak rusuh sayap-sayap kecilnya, sebenarnya sama sekali tak menggangguku, ia malah menjadi ornamen baru dalam kamar yang hidup!! It’s ok i said, nothing to lose having him here.

Sehari masih kubiarkan ia di sana, kuberikan ia kesempatan untuk dapat menemukan sendiri jalan hidupnya yang benar, kembali ke habitatnya di balik bangunan rumah, dimana sawah terhampar menunggunya, menunggu ia untuk ikut berjuang bersama serangga lain, karena sawah dan petani amat senang padanya, banyak kerja-kerja yang dapat ia lakukan di sawah, ia bisa berburu berbagai serangga seperti ngengat dan walang sangit, menjadi pahlawan atas kerjanya membasmi hama tanaman yang menurunkan produktivitas sawah.

Dua hari, ia masih ‘betah’ disana. Konsistensi atas hasrat yang begitu besar untuk tinggal di tempat yang sama sekali baru baginya atau konsistensi atas (maaf) kebodohannya untuk berada di tempat yang salah. Karena ia tau pasti, tak ada gelimpangan makanan yang bisa ia dapatkan di sana, tak ada peran berarti yang bisa ia lakukan. Ataukah dia sebenarnya sedang menghindar, karena ia ingin jauh dari segala sesuatu yang mengganggunya? ia sedang ingin ketenangan? seperti juga manusia lain yang menghindari masalah, namun tanpa disadari malah menuju permasalahan yang lain!!

Tiga hari,, enough, i said to my self. You didn’t learn pity dragonfly. You need to get out of here, you need to eat, and you need to avoid a dangerous house lizard. Ok, i’ll help you get out of here. Dini hari tadi, 03.00 kubimbing ia keluar lewat pintu kamar, dia masih menolak. Dengan halus, kupegang sayap-sayapnya yang sudah mulai kelelahan, i tought he was having hypoglycemia since he eat nothing!! hehe.

Fly high my friend, be free..

Barusan, beberapa menit sebelum ceritanya kutuangkan dalam tulisan, ia kembali datang, lewat jalur yang sama, jendela atas yang terbuka, ia melakukan kesalahannya lagi, berputar-putar di sekitar jendela, lagi, terlihat sangat ingin keluar, kebingungan, disorientasi mungkin bahasa kerennya.

Dia tidak belajar.

Dan seperti yang kukhawatirkan, dia berakhir sebagai menu sarapan cicak yang kelaparan pagi ini.

06.42
Kamis, 15 april 2010.

Banana Smoothie

Bismillaahiirrahmaaniraahiim…

Tadaa… akhirnya memilih untuk ganti kulit.,^^, merubah theme semoga jadi lebih segar.. Sempat bingung memilih theme apa yang akan digunakan, apa sweet blossom. (theme yang cewek banget!!, huhu, kayaknya nggak yaaa..^^), dengan latar pink,, ada bunga2 yang menyembur di atasnya.. hehe,, atau yang agak dark seperti chaotic soul atau freshy.. Pilihan terakhir ternyata jatuh pada si-cantik banana smoothie,, semoga membuat tambah semangat yaa..^^

^^